
Pulau Cemara Besar dengan latar Pulau Karimun Jawa
Jika anda termasuk yang menyukai wisata bahari kemungkinan besar
sudah pernah mendengar nama Karimun Jawa. Kepulauan yang terletak di
utara Jawa Tengah ini memang salah satu tempat favorite bagi pecinta
wisata maritim, terutama yang hobi diving atau snorkling.
Berdasarkan data dari situs Departemen Kehutanan, Karimunjawa adalah
kepulauan di Laut Jawa yang termasuk dalam Kabupaten Jepara. Dengan
luas daratan ±1.500 hektar dan perairan ±110.000 hektar. Taman Nasional
Karimunjawa merupakan gugusan 27 buah pulau yang memiliki tipe ekosistem
hutan hujan dataran rendah, padang lamun, algae, hutan pantai, hutan
mangrove, dan terumbu karang (dephut.go.id).
Saya sendiri baru sempat berkunjung ke Karimun Jawa ini pada awal
Juli 2009 yang lalu. Mengingat pula bahwa sekitar Juli hingga Agustus
dianggap sebagai musim yang paling cocok jika ingin berkunjung kesana.
Karena pada waktu inilah iklim serta cuaca termasuk ramah untuk wisata
bahari. Selain bahwa pada musim ini pula ombak termasuk tidak terlalu
tinggi untuk pelayaran ke sana.
Kali ini saya berangkat ke sana bersama rombongan dari Cibubur Diving
Club. Mereka kebetulan memang rutin hampir tiap tahunnya melakukan
penyelaman di Karimun Jawa.
Menempuh perjalanan darat dari Jakarta menuju Semarang hampir sekitar
12 jam dengan bus. Mengingat jalur Pantura yang tidak begitu bagus
serta banyak perbaikan jalan, maka naik kereta api atau pesawat ke
Semarang agaknya akan lebih nyaman meski akan lebih mahal. Kami tiba di
Pelabuhan Tanjung Mas Semarang sekitar pukul 8 pagi.
Setelah memperoleh tiket Kapal Motor Cepat (KMC) Kartini I maka kapal
pun berlayar sekitar pukul 9 pagi menuju Kepulauan Karimun Jawa. Untuk
urusan tiket ini ada baiknya jika sudah memesan terlebih dahulu
jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Berdasarkan keterangan penjual
tiket, bahkan tiket sudah habis hingga sebulan ke depan karena memang
sudah banyak dipesan. Padahal untuk ukuran tiket kelas bisnis seharga
Rp. 90.000 dan kelas eksekutif seharga Rp. 125.000 sudah termasuk ke
dalam kategori mahal.
KMC Kartini I di Tanjung Mas, Semarang
Sebenarnya ada dua rute pelayaran menuju Karimun Jawa, yaitu dari
Pelabuhan Tanjung Mas Semarang atau dari Pelabuhan Kartini di Jepara.
Jika dari Tanjung Mas maka pilihannya menggunakan KMC Kartini I yang
hanya menempuh perjalanan selama 3 hingga 3,5 jam. Sedangkan jika dari
Jepara, menggunakan Kapal Motor Muria yang membutuhkan waktu tempuh
hampir 6 jam perjalanan. Rute pertama lebih banyak dipilih karena lebih
singkat walaupun lebih mahal.
Sedangkan melalui jalur udara dapat ditempuh dari Bandara Ahmad Yani,
Semarang menuju Bandar Udara Dewa Daru di Pulau Kemojan dengan pesawat
sewa jenis CASSA 212 yang disediakan oleh PT. Wisata Laut Nusa Permai
(Kura-Kura Resort). Waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Kisaran harga
sewanya sekitar US $ 1.300 per jam.
Sekitar pukul 1 siang KMC Kartini I berlabuh di Pelabuhan Karimun
Jawa. Para penumpang yang turun dari kapal mayoritas adalah turis yang
memang datang untuk berwisata secara rombongan. Jadi ketika mereka
mendarat, rombongan mereka segera saja diangkut oleh mobil penduduk
menuju
cottage ataupun wisma yang sepertinya juga sudah mereka pesan sebelumnya. Barang-barang diangkut menggunakan mobil
pick-up sedangkan para pemiliknya diangkut menggunakan Elf.
Di dekat dermaga memang ada semacam aula untuk persinggahan
orang-orang yang baru saja tiba. Terlihat pula ada loket pusat
informasi. Saat itu loket terlihat kosong sehingga sulit untuk
mendapatkan informasi yang memadai bagi turis yang baru pertama kali
datang ke sini.
Rombongan kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju sisi lain pulau
guna menyebrang menuju Pulau Menjangan Kecil. Ternyata wisma tempat
kami menginap selama di sini tidak berlokasi di pulau utama Karimun
Jawa.
“Kalau musim liburan begini banyak wisma dan
cottage di pulau Karimun ini yang penuh. Tapi kita dapat yang di Pulau Menjangan Kecil. Dan sebenarnya lebih eksklusif, karena
cottage
di sana tidak banyak disewakan untuk umum”, jelas Bertha Suranto,
koordinator dari Cibubur Diving Club kepada kami. Bertha sendiri sudah
beberapa kali berkunjung ke Karimun guna berbagai keperluan, terutama
shooting sejumlah film televisi garapan
Production House miliknya. Dia banyak kenal dengan pemilik
cottage dan pejabat di sini.

Pulau Menjangan Kecil
Dari pulau utama menuju Pulau Menjangan Kecil menggunakan kapal
nelayan sekitar 20 menit. Di sekitar pulau utama Karimun Jawa memang
banyak bersebaran sejumlah pulau kecil yang tidak semuanya berpenghuni
atau ditempati. Dan salah satunya adalah Pulau Menjangan Kecil ini.
Cottage sengaja didirikan di pulau kecil yang tak
berpenghuni ini sehingga keasriannya tetap terjaga. Meski tidak
disewakan untuk umum,
cottage di Menjangan Kecil sering diinapi oleh pejabat provinsi atau kabupaten serta sanak keluarga mereka kala liburan.
Bibir pantai hanya berjarak sekitar 10 meter dari
cottage
sehingga saya dapat menyaksikan debur ombak dari jendela kamar. Pantai
berpasir putih yang landai hampir di seluruh pesisir pulau menjadikannya
cukup nyaman untuk sekedar duduk-duduk di sana menikmati birunya laut.
Berjalan kaki menyisiri pantai juga tidak memakan waktu lebih dari 20
menit mengingat kecilnya pulau.

terumbu karang di Pulau Menjangan Kecil
Pulau Menjangan Kecil memiliki gugusan karang yang lumayan bagus.
Jadi saya bisa snorkling tidak jauh dari bibir pantai di sana. Meski
terumbuh karangnya masih cukup baik, ada juga beberapa yang rusak. Dan
sayangnya lagi, ada banyak bulu babi yang mengancam di pinggiran pantai.
Perlu agak hati-hati jika snorkling di tempat ini terutama bagi pemula.
Jika tidak terlalu suka berenang atau snorkling disediakan pula
banana boat dan
glass bottom boat. Melalui
glas bottom boat kita juga dapat menikmati indahnya pemandangan terumbu karang tanpa harus berbasah-basahan.
Jika bosan bermain-main di air maka bisa sekedar bersantai-santai di beberapa gazebo yang ditersedia di sekitaran
cottage. Untuk anak-anak juga ada ayunan di dekatnya. Di bagian belakang pulau saya bisa menikmati suasana senja di tepi pantai.
Malam harinya kami sekedar bercengkrama dan menikmati makanan khas di
pulau, yaitu seafood. Agaknya seafood akan menjadi makanan pokok kami
selama beberapa hari ke depan di Kepulauan Karimun Jawa ini. Beruntung
masih dapat ketemu dengan nasi.
Sayangnya angin malam itu berhembus kencang. Saya khawatir
kalau-kalau akan ada badai malam itu. Ombak juga terlihat agak tinggi.
Dan hal ini masih berlangsung hingga pagi harinya.
Rencananya siang hari itu kami akan pindah ke Wisma Apung, penginapan
kami selanjutnya. Namun kapal nelayan yang akan mengangkut kami dan
berbagai macam perlengkapan lainnya terancam gagal menepi di dermaga
Menjangan Kecil.
Ombak dan angin kencang membuat kapal tidak berani nenambatkan tali
terlalu dekat ke dermaga. Beberapa kali badan kapal hampir membentur
dermaga dari kayu yang sudah terlihat rapuh. Meski agak memaksakan diri,
beruntung

kapal akhirnya dapat merapat dan berhasil membawa rombongan kami semua untuk menuju ke tujuan selanjutnya.
Kapal kemudian mengarahkan kami menuju sebuah rumah dengan keramba di
pinggiran Pulau Menjangan Besar. Di sana ada penangkaran penyu sisik.
Jika sempat berjalan kaki menyisiri Pulau Menjangan Besar, akan berjumpa
dengan penangkaran elang jawa.

Di
keramba si pemilik memiliki semacam kolam kecil berisikan sejumlah ikan
hiu. Dan di kolam lainnya terlihat ikan baracuda. Agaknya ikan hiu yang
ditangkarkan ini menjadi salah satu daya tarik utama pengunjung di
sana. Atraksinya adalah berenang bersama hiu. Tidak sedikit turis yang
memberanikan diri mencebur ke kolam dan berfoto bersama segerombolan
ikan hiu. Termasuk juga saya. Konon, hiu di situ jinak.
Selanjutnya kapal membawa kami menuju Wisma Apung. Mirip dengan
cottage
yang berupa rumah yang mengambang seperti keramba di tengah laut, maka
disebut dengan wisma apung. Untuk dua hari ini kami akan menginap di
sini. Ada semacam idiom di antara kami bahwa jika belum menginap di
Wisma Apung maka belum dianggap sah berwisata di Karimun Jawa.
Setelah
check-in, menaruh barang-barang, dan makan siang,
perjalanan berlanjut menuju tempat diving dan snorkling. Kapal kemudian
menuju ke perairan di sekitar Pulau Cemara Kecil. Ombak dan angin masih
terasa bertiup kencang.
Kapal pun gagal mendarat di Pulau Cemara Kecil. Dan perjalanan
dilanjutkan mendekati Pulau Cemara Besar yang berlokasi tidak jauh dari
situ. Beruntung ombak sudah agak reda siang itu.
Pulau Cemara Besar sebenarnya sebuah pulau yang kecil. Pulau ini
tidak dapat didarati oleh kapal nelayan. Terdapat gugusan atol yang
melindungi pulau tersebut. Justru dengan hal tersebut perairan di
seputar pulau ini menghadirkan gugusan karang yang indah untuk
disaksikan. Kapal pun melempar sauh di sini.
Para anggota rombongan melakukan kegiatannya masing-masing. Kelompok
yang ingin diving menceburkan dirinya di sisi kiri kapal. Yang sekedar
snorkling seperti saya mengambil sisi kanan kapal. Sisanya hanya
menikmati pemandangan sekeliling dari atas kapal.

Pulau Cemara Kecil
Pemandangan di bawah laut di sini memang mengagumkan. Terumbu karang dan ikan-ikan yang biasanya hanya saya lihat di
Discovery Channel
dapat dilihat dengan mata sendiri di sini. Terumbu karang membentuk
susunan dan makin ke permukaan ketika mendekati atol di sekeliling
pantai.
Sayangnya beberapa karang terlihat rusak. Menurut penuturan sejumlah
penyelam, yang justru sering merusak karang di sini adalah jangkar dari
kapal yang membawa turis untuk diving atau snorkling di seputaran karang
itu.
Untuk yang hobi diving, ada
spot yang menarik di sekitar
Pulau Kemojan, tidak jauh dari situ. Di tempat itu terdapat bangkai
kapal Panama INDONO yang tenggelam pada tahun 1955, dimana pada saat ini
menjadi habitat ikan karang dan cocok untuk lokasi penyelaman (
wreck diving). Sayangnya kami juga tidak sempat ke sana.
Ketika hari beranjak sore, kapal berserta rombongan beranjak dari
tempat itu dan berencana kembali menuju Wisma Apung. Lagipula obak sudah
mulai tinggi. Dalam perjalanan ombak menggoyang-goyangkan kapal dengan
agak kencang.
Sebuah insiden terjadi ketika salah seorang anggota rombongan
terjatuh dari kapal. Celakanya, dia tidak mengenakan jaket pelampung.
Agaknya dia tidak berpegangan dengan erat ketika ombak kencang menerjang
kapal sehingga terjatuh ke air.
Beruntung salah seorang awak kapal melihat dan segera loncat ke air
guna mengejar. Khawatir terbawa ombak dan semakin menjauh dari kapal.
Mas Jabrik, ketua rombongan Cibubur Diving Club menyusul kemudian terjun
melakukan aksi penyelamatan.
Setelah menunggu kapal memutar, menjemput dan melempar pelampung dan
tali penyelamat, akhirnya mereka berhasil dibawa kembali ke atas kapal.
Pengalaman Mas Jabrik sebagai tim SAR di UGM cukup membantu penyelamatan
sore itu.
Mengingat ombak yang kencang akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan
penuh kehati-hatian. Semua penumpang berpegangan erat kepada apa saja
yang dapat dipegang di kapal guna menghindari kejadian serupa.
Di tengah-tengah kecemasan selama perjalanan pulang menuju Wisma
Apung, ombak terasa makin mereda. Kapal mulai berkurang goyangannya. Di
ufuk barat senja mulai menghias langit. Semburat jingga di cakrawala
menghantarkan kapal hingga merapat dengan selamat di pemberhentian
terakhir kami sore itu.
di Wisma Apung
Wisma Apung terdiri dari sejumlah kamar kayu dengan kapasitas 2 orang
per kamarnya. Ada yang ber-AC dan non-AC. Kebetulan saya dapat kamar
paling ujung yang memiliki
view paling bagus diantara kamar yang lainnya.
Saya dapat melihat pantulan bulan purnama di atas permukaan laut yang
tenang malam itu dari depan kamar. Yang kurang beruntung jika mendapat
kamar di sebelah ruang genset—sumber listrik di wisma apung—maka harus
mengakrabkan diri dengan suara bising sepanjang malam. Malam itu saya
sulit tidur karena tempat tidur serasa sedikit bergoyang karena pengaruh
ombak.
Hari berikutnya kami mencoba sedikit berwisata darat. Setelah
menyebrang ke pulau utama, dilanjutkan dengan menyewa mobil untuk
mengelilingi pulau. Tujuannya, Pantai Baracuda di sisi lain Pulau
Karimun Jawa. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk tiba di sana.
Melalui jalan aspal yang hanya seluas 2 meteran dengan rute naik turun
perbukitan kadang terlihat pula pemandangan laut sepanjang perjalanan.
Sepanjang perjalanan darat dapat terlihat bagaimana kehidupan desa sehari-harinya. Jika masyarakat
di pesisir
lebih banyak bekerja sebagai nelayan, masyarakat di pedalaman pulau
bekerja sebagai pengrajin kayu, sebagian sebagai petani—saya sempat
melihat ada beberapa petak sawah, dan sebagian bertani rumput laut.
Ipong, supir sekaligus
guide kami di wisata darat
menceritakan mayoritas penduduk pulau Karimun Jawa adalah orang Jawa dan
orang Bugis. Orang jawa umumnya pengrajin kayu dan sejenisnya sedangkan
orang Bugis kebanyakan nelayan. “Ciri lain yang membedakan adalah rumah
panggung yang biasanya hanya dimiliki oleh orang Bugis, “ jelasnya.
Di pulau ini juga ada hutan mangrove. Sayangnya masih sulit untuk
berkeliling di hutan mangrove tersebut. “Belum banyak dibuat pijakan
kaki untuk dapat berjalan-jalan di hutan mangrove, “ tambah Ipong.
Di sini juga terdapat wisata ziarah ke makam Sunan Nyamplungan.
Meniti anak tangga naik bukit di pedalaman pulau. Kami batal mampir ke
sana.

petani rumput laut
Tiba di pesisir Pantai Baracuda, di sini juga ada
cottage
yang dapat dihuni oleh turis meski terlihat hanya terdiri dari 3 kamar.
Di pantai ini kita dapat berbaur dengan penduduk asli yang banyak
berprofesi sebagai nelayan. Sepanjang pantai banyak kapal yang
ditambatkan seusai berlayar dan beberapa yang sedang diperbaiki.
Sebagian lain sedang sibuk mengeringkan rumput laut yang baru dipanen.
Anak-anak nelayan memancing hanya dengan mengandalkan tali pancing dan
umpan.
Dari tepi pantai dapat terlihat laut agak kehijauan. Artinya beberapa
meter selepas pantai memang laut dangkal karena di situ terdapat
gugusan karang. Bahkan dapat terlihat dari atas permukaan air ketika
kami berperahu menuju Pulau Cilik dari Pantai Baracuda.
Pulau Cilik berada di seberang Pantai Baracuda. Hanya perlu waktu 10
menit menuju ke sana. Ada sebuah cottage yang dapat dihuni 1 keluarga di
pulau ini. Jadi nuansa “ekslusif” akan lebih terasa jika menyewa
cottage di pulau ini.

Pulau Gosong Tengah
Pantainya bersih dan pasirnya putih, ombak tidak begitu besar.
Sayangnya kami tidak membawa alat snorkling kali ini. Jadi hanya bisa
berenang dan bermain di sekeliling pantai. Dari sini dapat terlihat
pemandangan Pulau Karimun Jawa. Sore hari kembali ke Wisma Apung.
Hari terakhir saya hanya sempat ke pasar pagi di Pulau Karimun Jawa.
Tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional lainnya, kecuali mayoritas
penjualnya adalah wanita. Hanya ada seorang pedagang yang lelaki. Pasar
ini juga pasar satu-satunya di pulau tersebut.
Siangnya, kami sudah harus menuju dermaga Karimun Jawa guna kembali
menuju ke Pulau Jawa. Tiket KMC Kartini sudah ditangan. Sebagian
wisatawan sudah menyempatkan diri membeli oleh-oleh—sayangnya tidak ada
cinderamata yang merupakan ciri khas Karimun Jawa.

KCM
Kartini mengangkat sauh sekitar pukul 12 siang. Akan memakan waktu 2,5
jam sebelum tiba di Pelabuhan Kartini di Jepara. Hampir seluruh
penumpang kapal tertidur kelelahan sepanjang perjalanan.
Sebagian berencana kembali ke Karimun Jawa di lain kesempatan. Yang
lainnya mengagendakan untuk berwisata bahari ke kepulauan atau pantai
lainnya di nusantara. Indonesia memang memiliki potensi wisata maritim
yang menarik, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Dan Kepulauan
Karimun Jawa adalah salah satu tempat yang sangat layak untuk
dikunjungi.